Aku bersimpuh di batu nisan ini. Sebuah nama tertulis di sana. Wulandri. Sebuah nama yang akan ku kenang sampai akhir hayatku.

Wulandri. Dia adik ragilku. Dia berbeda dengan kami, kakak-kakaknya. Dia seorang anak downsyndrom.

Wajahnya seperti kebanyakan anak downsyndrom lain. Khas sekali. Dan ada kemiripan pada fisiknya.

Dik Wulan yang downsyndrom ini kami sayangi. Tak pernah kami menyembunyikan adik kecilku. Begitu juga ibu dan bapak. Sama sekali tidak malu dengan keberadaan dik Wulan.

Dik Wulan ini sangat ceria. Dan selau terlihat bahagia. Tingkahnya dan cara bicaranya yang khas itu selalu mengundang gelak tawa untuk kami.

***

“Dik Wulan kena covid, mbak..”.

Sebuah pesan di whatsapp menghenyakkanku. Pesan dari dik Pur, adik laki-lakiku.

Aku tertegun. Adikku yang manis dan lucu itu terkena virus yang melanda bumi ini. Tentu saja tak terbayangkan sebelumnya.

“Ibu juga, mbak..”.

Belum sempat ku balas, ada pesan masuk lagi.

“Innalillahi.. Astaghfirullah..”, ucapku lirih.

Badanku lemas. Ibu juga kena covid. Sama dengan dik Wulan.

Ya, memang ibu yang merawat dik Wulan. Sebenarnya sama adik laki-lakiku yang menghubungiku ini juga.

“Keadaan dik Wulan sama ibu gimana, dik?”, tulisku di whatsapp.

Ku tunggu kabar dari dik Pur. Rasanya kebat kebit hatiku. Jika tidak terkena covid tentu aku akan segera mengajak suami dan dua anakku menjenguk dik Wulan dan ibu.

***

Doa tak lelah ku lantunkan untuk dik Wulan dan ibu. Kabar perkembangan kesehatan dik Wulan dan ibu selalu ku nantikan setiap detiknya. Dan setiap harinya. Kabar baik tentunya.

“Ibuuuu… Ini ada pesan masuk di nomor whatsapp ibu.. Dari Om Pur..”, seru Larisa, anak bungsuku.

“Ada apa, Sa?”

Tanpa menunggu jawaban Larisa, aku segera membuka pesan dik Pur.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un..”, ucapku lirih.

Dik Pur memberitahuku, dik Wulan telah berpulang ke rahmatullah. Sedih ku rasakan.

“Ibu belum tahu kalau dik Wulan meninggal, mbak.. Takut kalau diberitahu nanti ibu bisa drop.. Jadi sementara ibu belum ku beritahu.. Menunggu keadaan ibu pulih..”, tulis di Pur.

***

Dan hari ini, beberapa hari setelah berpulangnya dik Wulan, ku sapa adik kecilku di sini. Di rumah barunya. Rumah yang pasti lebih baik.

“Allahummaghfirlahaa war hamhaa wa’afihi wa’fuanha.. Husnul khatimah ya, dik..”.

Untaian doaku dalam hati untuk dik Wulan. Aku tahu dik Wulan lebih disayang Sang Khalik. Sudah tidak merasakan sakit. Dan pasti lebih berbahagia di sana. Bertemu dengan bapak.

 

 

Tinggalkan Balasan